A adalah seorang kepala cabang perusahaan swasta terkemuka di Jakarta. Keseharian selalu berakhir dengan pergi ke kantor pagi-pagi dan tiba ke rumah larut malam. Tidak seperti biasa, anak pertamanya (sebut saja B) yang baru saja duduk di kelas dua masih belum tidur.
“Kenapa belum tidur? ” tanya A sambil mencium anaknya itu. Biasanya memang jam segini B sudah terlelap dan keesokkannya baru bangun setelah A berangkat ke kantor. “Aku menunggu papa pulang, sebab Aku mau bertanya berapa gaji ayah” kata B. “Hmm.. tumben nanya gaji Papa, mau minta uang jajan lagi yah?” balas A.
“Gak Pa, cuma pengen tau saja” jawab B. “Ok, kamu hitung yach, setiap hari Papa kerja 10 jam, dan dibayar Rp 400.000. Truz hari kerjanya anggap saja 25 hari, jadi gaji Papa berapa ? Ayo Hitung” tantang A.
B berlari ke kamar dan mengambil pensil beserta secarik kertas, sementara A membuat kopi di dapur. Selesai membuat kopi, A berjalan menuju ruang keluarga untuk menyalakan TV. B terus mengikuti A dan berkata “Kalau satu hari Papa digaji Rp 400.000, maka per jam Papa dibayar Rp 40.000 dong”.
“Wah sudah pintar hitung yah kamu, sekarang cuci kaki, muka, dan bobok” kata A. Namun B tidak beranjak dari tempatnya, bahkan kembali berkata “Pa, boleh pinjam Rp 5.000 ga?”
“Sudah jangan macam-macam, buat apa minta duit malam-malam, tidur sana, Papa mau mandi” jawab A. “Tapi ayah ..” kata B. Sebelum B selesai berkata, “Papa bilang tidur” hardik A. Teriakan itu membuat B segera berlari menuju kamarnya.
Selesai mandi, A mendapati anaknya tersebut masih belum tidur, B menangis terisak-isak dengan memegang uang Rp 15.000 ditangannya. A pun mendekati anaknya dan sambil mengelus kepala anaknya seraya berkata “Maafin Papa yah. Papa sayang sama B, klo buat beli mainan kan bisa besok. Jangankan Rp 5.000, lebih dari itu juga gak apa-apa”
“Pa, Aku tidak minta uang, tapi Aku pinjam” kata B. “Iya tapi buat apa malam-malam begini?” balas A lembut. “Aku dari tadi menunggu Papa pulang untuk main ular tangga. Tapi kata mama, waktu papa sangat berharga. Jadi, Aku mau beli waktu papa. Papa satu jamnya dibayar Rp 40.000, maka setengah jam berarti Rp 20.000. Tadi pas buka celengan, duitku hanya ada Rp 15.000, jadi kurang Rp 5.000″ cerita B polos.
Mendengar kata-kata itu, A pun terdiam dan memeluk B erat-erat.
————————————————————————————–
Zaman sekarang banyak pekerja kantoran atau wirausahawan yang menyerahkan anaknya untuk diasuh oleh suster, pembantu, atau supir. Padahal anak mereka sangat merindukan kehadiran papa mama-nya untuk bermain bersama. Mereka ingin merasakan kasih sayang orang tuanya, bukan dengan material, tapi perhatian yang utama. Bahkan ada kasus dimana wanita karier yang menangis pilu ketika mengetahui anaknya sakit demam tinggi, namun tidak mau dipeluk, bahkan anaknya berteriak-teriak memanggil nama pembantunya yang sedang mudik lebaran.




Last Comment