Arsip untuk November, 2008

19
Nov
08

Blood Types

19
Nov
08

Scared

Hari ini hari yang aneh . . Pagi-pagi ke kampus eh. . ada yang bilang “kicut”. Entah kenapa, tanpa sebab, tanpa tanda-tanda, kata” itu terngiang di telinga mulu : “@#^%@&%”. Nah mulailah kejadian tak jelas saat makan di sebelah rumah sakit, pas selesai makan dan suasana hujan yang harusnya dingin menjadi puanas, gimana ga panas, ada yang tiba” nantangin dan tak lama kemudian jadi terbawa suasana juga :-) mulailah round two.

Lanjutkan membaca ‘Scared’

18
Nov
08

Gang Fight

Gang Fight = Tawuran :-P Beberapa hari ini banyak sekali berita mengenai tawuran mahasiswa. Apa yang terjadi pada bangsa ini ? Mahasiswa tidak berbeda dengan preman-preman. Mahasiswa yang dikatakan sebagai “kaum intelek”, “pemimpin bangsa masa depan” malah bertindak tidak semestinya. Adu jotos, kekerasan, dan saling ejek mewarnai tawuran mahasiswa, bahkan dalam tawuran tersebut sarana publik pun dirusak. Hal ini tentu mencoreng nama baik pendidikan di Indonesia.

Lanjutkan membaca ‘Gang Fight’

15
Nov
08

Promodel

SIMSIS (Simulasi Sistem) sebenarnya sangat menarik dan menantang. Tapi . . . beberapa hal membuatnya jadi sangat _ _’ :-( Hal-hal yang membuat SIMSIS jadi tidak menarik lagi, antara lain :

1. Masih pake PROMODEL vers. 4, padahal sekarang sudah muncul PROMODEL vers. 7.5 (Bedanya jauh lagi, soalnya yang baru lebih user-friendly :-) ) Lanjutkan membaca ‘Promodel’

13
Nov
08

Pellmell

Dari empat mata kuliah, cuma masuk satu. OMG, what happen? Aya Naon :-?

Godaan, keinginan, kemauan, dan sedikit percikan ‘api’ membuat hari ini kehilangan tiga mata kuliah :-(

Dipikir-pikir, kacau juga yah, hmm.. harus berubah nih, jangan terpancing keinginan sesaat, harus lebih tegar, berpikir ke depan :mrgreen:

10
Nov
08

Love = Waiting for a Jitney

Cinta seperti orang yang mau naik angkot 8-)

Sebuah angkot datang, dan kamu bilang “Wah. . terlalu penuh, ga nyaman, tunggu yang lain aja”

Kemudian datang angkot lagi, kamu melihat dan berkata “angkotnya bobrok, males, gak mau ah”

Angkot berikutnya datang, bagus, tampak nyaman, dan kamu berminat, tapi lewat begitu saja seakan-akan tidak melihatmu.

Waktu terus berlalu dan kamu bisa terlambat sampai tujuan, sehingga kamu memutuskan untuk naik angkot yang berikutnya saja.

Lanjutkan membaca ‘Love = Waiting for a Jitney’